DATABASE
PLASMA NUTFAH DAN NETWORKING
Hakim Kurniawan 1),
Ida Hanarida 2)
dan Gunawan Ramli 3)
1)
Balai Besar Litbang Biogen, Bogor
2)
Balai Besar Litbang Biogen, Bogor; Komisi Nasional Plasma
Nutfah
3)
Balai Besar Litbang Veteriner, Bogor
Dokumentasi adalah kegiatan
untuk merekam dan menyimpan berbagai data penting yang
dihasilkan dari suatu kegiatan. Dokumentasi merupakan
kegiatan yang tidak terpisahkan dengan kegiatan pengelolaan
plasma nutfah secara keseluruhan. Hal tersebut dikarenakan
dokumentasi berlangsung sebagai akibat tuntutan dari
pengelolaan data yang dihasilkan dalam kegiatan eksplorasi,
konservasi, rejuvenasi, karakterisasi, serta evaluasi.
Dengan demikian haruslah ditumbuhkan pengertian dan
pemahaman bahwa data merupakan aset berharga yang juga
harus dikonservasi (dilestarikan) sebagaimana materi
plasma nutfah yang bersangkutan. Perkembangan peningkatan
kuantitas data yang dikelola dari waktu ke waktu di
sisi yang lain akan menuntut tersedianya data dan informasi
yang dapat diakses setiap saat secara cepat, mudah dan
akurat, sehingga diperlukan adanya sistem dokumentasi
dalam bentuk database yang memadai.
Database diharapkan tidak hanya digunakan untuk kebutuhan
akses informasi (information retrieval), akan tetapi
juga sebagai media untuk penyimpanan data (data storage)
secara aman, pemeliharaan data (data updating), pengolahan
data (data processing) serta pertukaran data (data sharing).
Oleh karena itu, adanya sistem dokumentasi yang baik
akan sangat membantu dalam kegiatan perencanaan, operasional
serta monitoring pengelolaan plasma nutfah (Painting
et al., 1993).
Kegiatan dokumentasi data sangat penting dilakukan untuk
tujuan:
- Mengamankan data dan informasi penting
- Mempermudah dalam pelaksanaan pemasukan
data (data entry)
- Mempermudah dalam pelaksanaan akses
data (data retrieval)
- Membantu dalam perancangan dan pelaksanaan
aktivitas pengelolaan plasma nutfah secara keseluruhan
- Mempermudah dalam melakukan monitoring
status pengelolaan plasma nutfah.
Beberapa sarana yang
diperlukan untuk dapat menyelenggarakan kegiatan database
meliputi: sarana dokumentasi, sumberdaya manusia, dan
sistem database pengelola. Sarana dokumentasi dapat
berupa buku catatan, lembaran form, ataupun komputer
beserta aksesoriesnya, termasuk sistem database pengelola
yang relevan jika kegiatan database akan dilaksanakan
menggunakan komputer. Sementara itu ketersediaan sumberdaya
manusia merupakan komponen yang sangat penting dalam
kaitannya dengan kegiatan inventarisasi, verifikasi,
entry data dan pemrograman.
Berdasarkan caranya, dokumentasi data dapat dilakukan
secara manual (database manual) dan secara komputerisasi
(database komputer). Dalam database manual, data dan
informasi dicatat dalam bentuk lembaran form atau buku
catatan (agenda), sedangkan dalam database komputer
data dan informasi direkam dan disimpan dalam bentuk
file. Dalam hal ini file dikelola dan diorganisir secara
sistematik menggunakan suatu software RDBMS (relational
database management system). Pesatnya perkembangan teknologi
saat ini mengakibatkan kegiatan dokumentasi menggunakan
komputer telah menjadi metode standar yang umum digunakan.
Dibandingkan dengan database manual, database komputer
memiliki kelebihan dalam banyak hal, yaitu: membutuhkan
ruang yang lebih ringkas (dengan kapasitas simpan data
yang sangat besar), mempermudah dan mempercepat dalam
entry data secara akurat, mempermudah dan mempercepat
dalam validasi data, meminimalkan kesalahan operator
(human error) pada saat entry data, mempermudah dan
mempercepat dalam akses data, serta mempermudah dan
mempercepat dalam pertukaran data.
Karakteristik
Data Plasma Nutfah
Berbeda dengan data yang lainnya, data plasma nutfah
memiliki karakteristik khusus. Seperti diketahui bahwa
pengelolaan plasma nutfah melibatkan berbagai kegiatan
mulai dari eksplorasi, konservasi, rejuvenasi, karakterisasi,
hingga evaluasi. Dalam hal ini macam dan tipe data yang
dihasilkan akan sangat ditentukan dari mana data tersebut
berasal. Menurut Sapra (1991), di dalam kaitannya dengan
pengelolaan plasma nutfah tanaman, pada umumnya data
dapat dikelompokkan menjadi beberapa tipe yaitu:
1. Data paspor, yaitu data yang berisi kumpulan informasi
umum yang berhubungan dengan asal dari mana plasma nutfah
tersebut dikoleksi. Data paspor memuat berbagai informasi
yang berasal dari kegiatan eksplorasi. Dikarenakan data
tersebut diinventarisir pada saat dilakukan eksplorasi
(koleksi) di lapang, maka data paspor umumnya hanya
berisi mengenai informasi-informasi yang bersifat umum.
Namun demikian, informasi tersebut sangat bermanfaat
untuk memberikan gambaran historis mengenai plasma nutfah
yang dikoleksi.
Meskipun terkadang terdapat beberapa item yang bersifat
spesifik komoditas, akan tetapi secara umum format untuk
pengisian data paspor tersebut telah disusun dalam bentuk
blanko isian baku, sebagaimana ditunjukkan pada Gambar
1.

Secara lengkap dan detail,
EURISCO (sistem database plasma nutfah Eropa) mengeluarkan
panduan teknis mengenai daftar deskriptor untuk data
paspor yang berlaku bagi banyak komoditas yang dikenal
sebagai multi-crop passport descriptors (MCPD). Daftar
deskriptor data paspor tersebut dikembangkan bersama
IPGRI dan FAO dan telah dipublikasikan sejak Desember
2001 sebagai standar internasional bagi daftar deskriptor
data paspor untuk multi-tanaman.
Hal penting yang harus
diperhatikan pada saat dilakukan eksplorasi adalah diupayakan
untuk mengumpulkan data paspor semaksimal mungkin. Semakin
banyak data dan informasi yang terkumpul maka akan lebih
memudahkan nantinya dalam pengelolaan serta dapat membantu
pemanfaatan terhadap materi plasma nutfah yang bersangkutan
(Greene, 2003).
Setelah kegiatan eksplorasi selesai, maka dianjurkan
untuk segera melakukan verifikasi, editing dan entry
data ke dalam format sistem dokumentasi yang telah disiapkan.
Hal tersebut dilakukan untuk menghindari terjadinya
ketidaklengkapan informasi, atau tertukarnya data dan
informasi antara materi plasma nutfah yang satu dengan
yang lainnya.
2. Data karakterisasi, yaitu kumpulan data yang diperoleh
dari hasil kegiatan karakterisasi. Dengan demikian data
karakterisasi akan berupa sifat-sifat dari karakter
morfologis (warna bunga, bentuk daun, dan sebagainya),
agronomis (umur panen, tinggi tanaman, dan sebagainya),
biokimia (hasil skoring secara biner terhadap marka
isoenzim), atau molekular (hasil skoring secara biner
terhadap marka molekular) tergantung metode yang digunakan
dalam kegiatan karakterisasi tersebut.
Dalam hal ini, dikenal dua macam data yaitu data kualitatif
dan data kuantitatif. Data kualitatif adalah data yang
bersifat diskontinyu dan merupakan hasil observasi terhadap
karakter yang bersifat kualitatif, seperti tipe bunga,
warna daun, bentuk daun, warna tangkai bunga, dan sebagainya.
Oleh karena itu pada kelompok data kualitatif dikenal
adanya kategori-kategori sifat dari suatu deskriptor.
Sementara data kuantitatif adalah data yang merupakan
hasil pengukuran (measurement) secara kuantitatif, seperti
tinggi tanaman, panjang daun, umur panen, diameter bunga,
dan sebagainya.
Hasil pengamatan terhadap data karakterisasi akan didokumentasi
dalam bentuk tabel lembar kerja (worksheet) sebagaimana
dicontohkan pada Gambar 2.

3. Data evaluasi, yaitu
kumpulan data yang diperoleh dari hasil kegiatan evaluasi,
seperti kandungan gizi (kandungan amilosa biji, kandungan
protein biji, dan sebagainya), reaksi terhadap cekaman
faktor biotik (hama dan penyakit) dan abiotik (kekeringan,
keracunan alumunium, keracunan besi, kadar garam tinggi
dan sebagainya).
Banyak dan macam deskriptor pada data karakterisasi
dan evaluasi bersifat spesifik untuk komoditas tertentu,
karena berkaitan erat dengan karakter-karakter spesifik
yang dimiliki oleh tanaman komoditas yang bersangkutan.
Oleh karena itu, untuk tiap-tiap komoditas tanaman telah
tersedia rujukan daftar deskriptor (descriptor list)
standar yang disusun oleh lembaga penelitian internasional.
Misalnya, untuk kelompok komoditas yute dan kenaf merujuk
pada daftar deskriptor standar dari International Jute
Organization (IJO), beberapa komoditas tanaman tropis
merujuk pada daftar deskriptor standar dari International
Plant Genetic Resources Institute (IPGRI), dan sebagainya.
Pada kenyataannya, secara operasional macam deskriptor
tersebut bersifat relatif dan sangat dipengaruhi oleh
kondisi kemampuan pelaksana dalam melakukan kegiatan
karakterisasi dan evaluasi baik dari segi teknis, ketersediaan
sarana, maupun ketersediaan pendanaan.
4. Data pengelolaan materi, yaitu data yang berkaitan
dengan kegiatan pengelolaan internal terhadap plasma
nutfah yang bersangkutan untuk tujuan perencanaan serta
monitoring. Termasuk dalam kelompok data ini adalah
data tata letak koleksi plasma nutfah dalam ruang penyimpanan
(apabila disimpan dalam bentuk koleksi benih), data
lokasi kebun koleksi beserta tata letak tanaman (apabila
berupa tanaman tahunan yang dikonservasi dalam kebun
koleksi), data hasil kegiatan rejuvenasi (viabilitas
benih, tanggal rejuvenasi dan panen, stok benih), data
mengenai lalu lintas keluar masuk koleksi plasma nutfah,
serta data pengguna plasma nutfah. Macam kegiatan dalam
pengelolaan materi ini belum tentu sama untuk institusi
bank gen yang berbeda pula, tergantung kepentingan serta
efisiensi dalam pengelolaannya (Hamilton et al., 2002).
Tahapan
dalam Dokumentasi Data
Sebelum melakukan kegiatan dokumentasi, maka ada beberapa
hal yang perlu diperhatikan agar kegiatan dokumentasi
dapat berlangsung efektif dan efisien, yaitu:
- Memutuskan tujuan kegiatan dokumentasi.
Dalam hal ini dianalisis apakah untuk inventarisasi
data saja, untuk monitoring status data secara berkala,
untuk melayani kegiatan pengelolaan internal plasma
nutfah yang bersangkutan, untuk melayani pesanan data
bagi pengguna intern, untuk melayani pesanan data
bagi pengguna ekstern, ataukah mencakup kesemuanya
?
- Menetapkan skala prioritas kegiatan
yang perlu didokumentasikan.
Perlu ditentukan pada pos kegiatan mana saja diperlukan
kegiatan dokumentasi dan pada pos kegiatan yang mana
pula belum perlu untuk dilakukan kegiatan dokumentasi.
Demikian pula pada pos kegiatan mana saja diperlukan
komputerisasi data, dan pada pos kegiatan mana pula
cukup dilakukan dokumentasi secara manual. Hal tersebut
harus disesuaikan dengan kondisi, kemampuan dan ketersediaan
sumberdaya.
- Pengelompokan data sesuai dengan
macam dan tipenya.
Dengan mengelompokkan data sesuai dengan macam dan
tipenya, maka data akan terorganisir secara sistematis
serta akan memudahkan dalam memelihara integritas
data.
- Merencanakan format sistem dokumentasi
yang akan digunakan.
- Jika mengunakan sistem dokumentasi
secara komputerisasi, maka pada tahap ini mulai ditetapkan
perangkat lunak apa yang akan digunakan, direncanakan
pula bagaimana tampilan form yang diinginkan, berapa
banyak menu yang ada di tiap form, apa saja macam
menu yang ada, dan sebagainya. Perancangan tentunya
tetap mengacu pada prinsip efisiensi, yaitu penggunaan
format seringkas mungkin, namun tidak mengurangi kinerja
yang diharapkan.
Beberapa tahapan operasional
dalam kegiatan dokumentasi data meliputi:
-
Inventarisasi data, yaitu pengumpulan
data yang berasal dari hasil suatu kegiatan baik
eksplorasi, konservasi, rejuvenasi, karakterisasi
maupun evaluasi.
-
Transkripsi data, yaitu kegiatan
penentuan dan penyeragaman format data ke dalam
bentuk format yang sesuai dengan yang diinginkan.
Dalam database komputer, pada kegiatan ini perlu
memperhatikan apakah data berupa teks (text), angka
(numeric), atau yang lainnya. Perlu diperhatikan
pula berapa panjang digit data (field) yang telah
ditentukan dalam format sistem dokumentasi. Selain
bertujuan untuk mempermudah nantinya dalam kegiatan
validasi data, transkripsi data dilakukan dilakukan
pula untuk mengelompokkan data ke dalam bentuk pengelolaan
yang sistematis.
-
Entri data, yaitu pemasukan
atau perekaman data ke dalam media penyimpan yang
dikelola dalam bentuk sistem basis data (database).
Pemasukan data dapat dilakukan secara manual (ke
dalam buku catatan) atau komputerisasi (data disimpan
berupa file). Dalam database komputer, perancangan
sistem harus mengacu pada prinsip efisiensi, yaitu
penggunaan format seringkas mungkin, namun tidak
mengurangi kinerja yang diharapkan.
-
Verifikasi dan validasi data,
yaitu pengecekan apakah data yang dimasukkan telah
memenuhi kriteria yang diinginkan, yaitu logis dan
benar (valid). Dalam database komputer, kegiatan
ini dapat dilakukan secara otomatis.
-
Pemeliharaan, yaitu pengupayaan
agar data yang disimpan akan selalu mengalami peningkatan
volume dan bersifat up to date (terkini).
-
Pengembangan sistem dokumentasi,
yaitu upaya peningkatan kinerja dari sistem dokumentasi
agar senantiasa dapat digunakan sesuai dengan yang
dinginkan.
Beberapa sistem dokumentasi
plasma nutfah tanaman yang telah dikembangkan antara
lain program aplikasi GMS (Genebank Management System)
oleh IPGRI. Program aplikasi tersebut belum banyak digunakan
di Indonesia karena pengoperasiannya agak rumit dan
kurang mampu menampung aspirasi kurator. CGIAR (Consultative
Group on International Agricultural Research) juga mengembangkan
program aplikasi yang dikenal dengan SINGER (CGIAR System-wide
Information Network for Genetic Resources). Sistem informasi
ini dapat diakses melalui alamat situs http://www.ipgri.cgiar.org/programmes/sgrp/homesinger.htm,
dan lebih diperuntukkan untuk pertukaran data plasma
nutfah tanaman secara online dalam jejaring kerja. Sistem
database serupa yang dikenal dengan European Central
Crop Database (ECCDBs) juga telah dikembangkan oleh
sejumlah institusi dan kelompok kerja European Cooperative
Programme for Crop Genetic Resources Network (ECP/GR)
di Eropa. Sistem database yang mengelola sentralisasi
data plasma nutfah tanaman dari berbagai institusi di
Eropa ini dapat diakses melalui alamat situs http://www.ipgri.cgiar.org/system/page.asp?frame=germplasm/dbases.htm.
Komisi Nasional Plasma Nutfah pada tahun 2004 mengembangkan
sistem dokumentasi plasma nutfah berupa program aplikasi
berbasis Microsoft Access yang dikenal dengan nama SIPNP
(Sistem Informasi Plasma Nutfah Pertanian) versi 1.0.
Sistem database ini mengakomodasi pengelolaan data plasma
nutfah dari sebanyak 79 komoditas tanaman pangan, tanaman
rempah dan obat, tanaman tembakau dan serat, tanaman
kelapa, tanaman hias, tanaman sayur, tanaman buah, mikroba
veteriner, serta sejumlah tanaman perkebunan (karet,
teh, kina, kopi dan kakao). Program aplikasi tersebut
selanjutnya disempurnakan pada tahun 2005 sebagai SIPNP
versi 1.5, dengan keseluruhan komoditas yang ditampung
sebanyak 82 komoditas.

Sejak awal pengembangannya,
Sistem Informasi Plasma Nutfah Pertanian disusun untuk
mengakomodasi pengelolaan data plasma nutfah pertanian
di balai-balai komoditas serta beberapa institusi lainnya
yang mengelola plasma nutfah. Program aplikasi database
ini telah dikemas menjadi 15 paket program yang diperuntukkan
untuk: Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi
dan Sumberdaya Genetik Pertanian - Bogor, Pusat Penelitian
Teh dan Kina – Gambung, Pusat Penelitian Kopi dan Kakao
– Jember, Pusat Penelitian Penelitian Karet – Medan,
Balai Penelitian Tanaman Rempah & Obat – Bogor,
Balai Penelitian Tembakau dan Serat – Karangploso, Balai
Penelitian Padi – Sukamandi, Balai Penelitian Jagung
dan Serealia Lain – Maros, Balai Penelitian Kacang-kacangan
& Umbi-umbian – Malang, Balai Penelitian Tanaman
Buah – Solok, Balai Penelitian Tanaman Sayur – Lembang,
Balai Penelitian Tanaman Hias – Segunung, Balai Penelitian
Kelapa dan Palma Lain – Manado, Balai Penelitian Ternak
– Ciawi, dan Balai Penelitian Veteriner – Bogor.
Sejak tahun 2006, penggunaan Sistem Informasi Plasma
Nutfah Pertanian selanjutnya diperluas ke BPTP-BPTP.
Untuk keperluan ini, telah dikemas pula program aplikasi
yang di dalamnya memuat sebanyak 60 komoditas plasma
nutfah pertanian.
Jejaring
Kerja (Networking)
Dalam kaitannya dengan fungsi pelayanan terhadap pengguna
(user) database memiliki dua fungsi layanan, yaitu layanan
kedalam (internal) dan layanan keluar (eksternal). Secara
internal database berperan dalam memfasilitasi kegiatan
pemasukan, validasi, dan akses data untuk menunjang
kegiatan pengelolaan plasma nutfah. Dengan adanya database
pula maka kegiatan monitoring mengenai status kegiatan
tertentu dapat dilakukan secara lebih mudah. Sementara
itu secara eksternal database memiliki peran untuk memberikan
layanan akses data kepada kalangan pengguna yang lebih
luas. Pihak yang berkepentingan (stakeholder) dalam
hal ini dapat berupa: pendidik, peneliti, pemulia, mahasiswa,
pengusaha, masyarakat maupun penentu kebijakan. Untuk
tujuan ini, perlu diperhatikan beberapa hal sebagai
berikut:
- Perlu dipilahkan antara data yang
berisifat umum dan khusus.
- Data umum merupakan data yang bersifat
public domain dan dapat diakses secara bebas oleh
pengguna dari berbagai kalangan.
- Data khusus hanya diperuntukkan
bagi pengguna tertentu, diperlukan adanya kesepakatan
pengaturan dalam tata cara pertukaran data (data sharing).
Agar dapat memberikan
layanan kepada pengguna yang lebih luas, maka diperlukan
adanya media sebagai sarana untuk melakukan pertukaran
data. Penentuan macam media yang akan digunakan tentunya
sangat tergantung seberapa target cakupan pengguna yang
akan dilayani. Macam atau tipe media tersebut dapat
berupa: Local Area Network (LAN), Wide Area Network
(WAN) dan internet.
Local Area Network digunakan dalam suatu jaringan internal
yang cakupannya terbatas, biasanya dalam lingkup intra-perkantoran.
Komputer satu dengan yang lainnya (server dengan workstation,
atau workstation dengan workstation) dihubungkan menggunakan
kabel. Untuk suatu lingkup perkantoran yang luas, perlu
digabungkan dengan teknologi wireless mengingat adanya
keterbatasan dalam kemampuan pengiriman data menggunakan
kabel. Sistem jaringan dengan cakupan yang lebih luas,
dikenal dengan istilah Wide Area Network. Sistem jaringan
ini mampu menghubungkan jaringan antar-perkantoran dan
melibatkan adanya satu server sentral yang mengelola
beberapa server lokal yang berada di masing-masing unit.
Server lokal di masing-masing unit mengelola komputer-komputer
workstation yang ada di unit yang bersangkutan.
Perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat
akhir-akhir ini telah memungkinkan untuk melakukan pertukaran
data dan informasi dalam lingkup global melalui jaringan
internet (world wide web). Pertukaran data dan informasi
dapat dilakukan di mana saja, asalkan ada koneksi ke
jaringan internet. Teknologi inilah yang sekarang ini
banyak dimanfaatkan untuk melakukan pertukaran data,
baik data yang bersifat umum maupun khusus (spesifik).
Untuk tujuan pertukaran data yang bersifat khusus, penyedia
data maupun pengguna kebanyakan membentuk suatu komunitas
jejaring kerja (network). Desakan kebutuhan untuk melakukan
pertukaran data spesifik oleh kelompok penyedia atau
pengguna data tertentu biasanya merupakan faktor utama
yang mendasari terbentuknya komunitas jejaring kerja.
Dalam perkembangan selanjutnya, istilah jejaring kerja
tidak hanya berkaitan dengan pertukaran data dan informasi
namun juga koordinasi program dan aktivitas penelitian.
Di era globalisasi sekarang ini, pertukaran data dan
informasi memiliki arti yang sangat penting dalam rangka:
peningkatan pengetahuan dan kepedulian masyarakat, pemacuan
terhadap penelitian lanjutan, pengembangan teknologi
ke arah komersialisasi, dan sebagai data dukung bagi
penentu kebijakan.
Komisi Nasional Plasma Nutfah sejak tahun 2002 telah
secara intensif melakukan kegiatan koordinasi dalam
pengelolaan data plasma nutfah pertanian. Dalam kegiatan
tersebut, telah dilakukan upaya standarisasi dalam tata
cara dokumentasi dan penyusunan database plasma nutfah
pertanian. Seiring dengan program kegiatan tersebut,
telah diupayakan pula untuk merintis terbentuknya jejaring
kerja pengelolaan data plasma nutfah pertanian lingkup
Badan Litbang Pertanian. Hingga tahun 2005, sebanyak
15 institusi telah terhimpun ke dalam jejaring tersebut.
Sebagai media informasi dan komunikasi bagi jejaring
kerja plasma nutfah pertanian, telah dibangun website
yang dapat diakses pada alamat http://www.indoplasma.or.id
(Hanarida et al., 2005). Diharapkan bahwa nantinya website
tersebut juga sekaligus dapat dimanfaatkan sebagai sarana
untuk kegiatan monitoring dan evaluasi kegiatan pengelolaan
data plasma nutfah pertanian pada institusi-institusi
anggota jejaring, baik anggota jejaring yang ada saat
ini maupun anggota-anggota jejaring yang baru di masa
mendatang. Website tersebut juga diharapkan dapat dimanfaatkan
sebagai sumber informasi oleh masyarakat luas yang menaruh
minat terhadap topik plasma nutfah pertanian.
DAFTAR
PUSTAKA
Greene, S. L. 2003. Improving the Quality of Passport
Data to Enhance Germplasm Use and Management. PGR Newsletter:
FAO-IPGRI Issue No. 125 p. 1-8
Hanarida, I., Sigit E. Pratignyo, Subandriyo, Maharani
Hasanah, T. S. Silitonga, Agus Nurhadi, Hakim Kurniawan,
Ida N. Orbani dan Gunawan Ramli, 2005. Koordinasi Pengelolaan
Database Plasma Nutfah Pertanian. Laporan Akhir Kegiatan
Penelitian Tahun 2004. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan
Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian.
IPGRI, 2005. Germplasm Database. http://www.ipgri.cgiar.org/system/page.asp? frame=germplasm/dbases.htm Diakses tanggal 15 September 2005.
N.R. S. Hamilton, J. M. M. Engels, Th.J.L. van Hintum,
B. Koo and M. Smale. 2002. Accession Management. Combining
or splitting accessions as a tool to improve germplasm
management efficiency. IPGRI Technical Bulletin No.
5. International Plant Genetic Resources Institute,
Rome, Italy.
Painting, K. A., M. C. Perry, R. A. Denning, and W.
G. Ayad. 1993. Guidebook for Genetic Resources Documentation.
A self-teaching approach to the understanding, analysis
and development of genetic resources documentation.
International Board for Plant Genetic Resources, Rome,
Italy.
Sapra, R. L. 1991. Documentation of Plant Genetic Resources.
In: Paroda, R. S. and R. K. Arora (Eds.) Plant Genetic
Resources Conservation and Management, Concepts and
Approach. International Board for Plant Genetic Resources.
Regional Office for South and Southeast Asia, New Delhi.
(Makalah disajikan pada forum Konggres
I Komisi Daerah (Komda) Plasma Nutfah tanggal 31 Juli
-2 Agustus 2006 di Balikpapan, Kalimantan Timur).
>> Kembali
ke halaman arsip artikel